Setiap hari, media elektronika maupun cetak kerap memberitakan berbagai kisah tentang pembunuhan, penganiayaan dan penyiksaan. Kondisi korban yang diberitakan pun bervariasi. Ada yang meninggal dengan tubuh terpotong-potong, anggota tubuh yang hilang, dan cacat seumur hidup.
Hal ini menunjukkan bahwa perilaku agresif yang terjadi saat ini menunjukan adanya peningkatan kualitas, tak hanya sekedar menyakiti atau melukai tetapi juga menghilangkan nyawa korbannya. Sebab-sebab kejadianya pun kadang-kadang sangat sepele. Misal, gara-gara minta rokok tidak diberi seorang pemuda tega menganiaya temannya sampai meninggal. Ingatkah dengan tersangka kasus mutilasi Ferry Idhamsyah alias Ryan dari Jombang, kalau selintas kita simak, juga melakukan berbagai hal karena masalah yang sepele. Dia sampai tega dan berani membunuh demi memenuhi kebutuhan hidupnya meski diselipi rasa cemburu berlebihan.
Hal ini menunjukkan bahwa perilaku agresif yang terjadi saat ini menunjukan adanya peningkatan kualitas, tak hanya sekedar menyakiti atau melukai tetapi juga menghilangkan nyawa korbannya. Sebab-sebab kejadianya pun kadang-kadang sangat sepele. Misal, gara-gara minta rokok tidak diberi seorang pemuda tega menganiaya temannya sampai meninggal. Ingatkah dengan tersangka kasus mutilasi Ferry Idhamsyah alias Ryan dari Jombang, kalau selintas kita simak, juga melakukan berbagai hal karena masalah yang sepele. Dia sampai tega dan berani membunuh demi memenuhi kebutuhan hidupnya meski diselipi rasa cemburu berlebihan.
Kasus lainnya, berbagai tawuran antar pelajar atau mahasiswa yang sering kita lihat di TV bila disimak penyebabnya sangat sepele hingga seharusnya tidak pantas kalau sampai dibela dan mengorbankan nyawa sampai mati.
Cerita lain menyebut, seorang remaja laki-laki yang cenderung melakukan tindak kekerasan seperti berkelahi karena takut dikatakan banci oleh teman-temannya. Ironisnya, hal ini banyak dilakukan meskipun secara normatif perilaku semacam itu tidak pantas dilakukan oleh seseorang yang disebut pelajar atau mahasiswa. Banyak teori agresivitas yang mengatakan sebab utama yang menyebabkan munculnya perilaku agresif adalah frustrasi (Hanurawan,2005). Dijelaskan di sini, perilaku agresif muncul karena terhalangnya seseorang dalam mencapai tujuan, kebutuhan, keinginan, pengharapan atau tindakan tertentu. Watson, Kulik dan Brown ( dalam Soedardjo dan Helmi,1998) lebih jauh menyatakan bahwa frustrasi yang muncul disebabkan adanya faktor dari luar yang begitu kuat menekan sehingga muncul perilaku agresi. Bandura (dalam Baron dan Byrne. 1994) menyatakan bahwa perilaku agresi merupakan hasil dari proses belajar sosial melalui pengamatan terhadap dunia sosial. Dari beberapa pandangan teoritik tersebut, dapat dikatakan misalnya bahwa perilaku agresif yang dituduhkan pada "Tukang jagal" Ryan dapat disebabkan oleh frustasinya yang mendalam sebagai akibat kegagalannya dalam dunia kerja. Frustasinya menjadi semakin menekan karena dia sudah masuk dalam perangkap kehidupan teman-temanya yang serba ada dan berkecukupan. Suasana kompetitif dalam masyarakat pun sangat kuat sehingga bagi mereka yang tidak siap akan mengalami stres berat yang lama kelamaan akan menjadi frustasi. Di samping itu, faktor lain yang tidak kalah pentingnya adalah peran media, entah cetak maupun elektronika yang juga sering menyajikan berita mengenai perilaku agresif ini. Belum lagi acara televisi yang menyuguhkan adegan kekerasan seperti Smack Down, UFC atau sejenisnya. Tayangan ini akan menimbulkan rangsangan dan memungkinkan individu yang melihatnya, terlebih mereka yang berusia muda, meniru model kekerasan seperti itu. Situasi yang setiap hari menampilkan kekerasan yang beraneka ragam sedikit demi sedikit akan memberikan penguatan bahwa hal itu merupakan hal yang menyenangkan atau hal yang biasa dilakukan ( Davidof,1991). Dengan menyaksikan adegan kekerasan tersebut terjadilah proses belajar dari model yang melakukan kekerasan sehingga akan memunculkan perilaku agresi. Bila perilaku seseorang membuat orang lain marah dan kemarahan itu mempunyai intensitas yang tinggi, maka hal itu merupakan bibit munculnya tidak hanya perilaku agresif pada dirinya namun juga perilaku agresif pada orang lain. Ada penularan perilaku (Fisher dalam Sarlito,1992 ) yang disebabkan seringnya seseorang melihat tayangan perilaku agresif melalui televisi atau membaca surat kabar yang memuat hasil perilaku agresif, seperti pembunuhan, tawuran masal, dan penganiayaan. Oleh karenanya, secara internal kita semestinya menjaga diri kita sendiri agar tidak melakukan periku agresif yang membahayakan.
Yang pertama adalah melatih ketrampilan emosi sehingga mampu menerima tanpa frustasi terhalangnya beberapa tujuan yang kita inginkan dalam hidup kita. Selain itu, karena melihat perilaku agresif bisa membuat kita juga agresif, kita perlu menyeleksi apa yang akan kita tonton dan yang akan kita rekam dalam memori kita.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar